Sabtu, 10 September 2016

Matrik dan 3 halaman pertama



JUDUL : PROMOSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH : MASIHKAH DIPERLUKAN?
Judul
Sub Judul
Deskripsi
Bab I
Pendahuluan
a.    Minat Baca
b.   Perpustakaan salah satu fasilitas pendukung
c.    Jenis-Jenis Perpustakaan
d.   Organisasi Perpustakaan sekolah
Prolog untuk menjelaskan bahwa perpustakaan sekolah merupakan satu lembaga untuk yang mendukung minat baca dari usia dini di sekolah
Bab II
Perpustakaan Sekolah
a.       Unsur-unsur Perpustakaan Sekolah
b.      Fungsi Perpustakaan Sekolah
c.        Layanan Perpustakaan Sekolah
d.      Koleksi Perpustakaan
e.       Kegiatan Perpustakaan Sekolah

Memaparkan tentang berbagai hal dasar mengenai perpustakaan sekolah
BAB III         
Promosi
a.      




a.       Pengertian
b.      Tujuan dan Manfaat
c.       Sasaran
d.      Produk
e.       Strategi
f.       Kegiatan Promosi

Menerangkan beberapa cara bagaimana mempromosikan perpustakaan sekolah agar lebih dikunjungi dan diminati
BAB IV         
Pengembangan Perpustakaan
a.      
a.       Otomasi perpustakaan
b.      Perpustakaan Digital
c.       Pengembangan Minat Baca

Setelah upaya promosi sudah dilaksanakan secara maksimal, perpustakaan sekolah harus berupaya diri untuk meningkatkan kualitasnya dengan menambah beberapa sarana yang mendukung

Spesifikasi
Judul Buku
PROMOSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH : MASIHKAH DIPERLUKAN?
Penulis
Yusti Hudadiana
Jenis Buku
Buku Bacaan Praktisi
Target Pembaca
Kepala sekolah, tenaga pendidik pengelola perpustakaan atau pustakawan

Wilayah : Semua wilayah
Fisik Buku
Halaman Naskah   : 120 Halaman
Ukuran Buku         : 15 x 21
Cover                     : Soft Cover
Perkiraan Halaman : 175 halaman
Perkiraan harga jual : Rp 30.000 – Rp 40.000
Latar Belakang

Konsep
Mengajak pembaca untuk menggairahkan minat baca bagi warga sekolah dengan memakmurkan perpustakaan sekolah
Desain
Disertai ilustrasi yang mendukung
Tema
Mengenalkan dan mempopulerkan perpustakaan sekolah
Manfaat Bagi Pembaca
  • Membuka mata bagi pembaca tentang eksistensi perpustakaan sekolah
  • Memberi pengetahuan kepada pembaca (target sasaran) bagaimana mempromosikan perpustakaan sekolahnya
  • Menjelaskan strategi,media dan kegiatan promosi yang bias dilaksanakan di sekolah
Faktor Lain
Hal yang dapat membatalkan keputusan membeli buku ini :
  • Telah memiliki buki ini
  • Kemasan yang kurang menarik
  • Isi tidak menarik
  • Pembaca tidak menemukan manfaat apa-apa
  • Harga tidak realistus
  • Belum tahu isinya



PROMOSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH : MASIHKAH DIPERLUKAN?
BAB I
  1. Minat Baca
Buku  identik dengan membaca, buku identik dengan deret buku yang berbaris rapi di rak-rak perpustakaan, buku identik ilmu pengetahuan, buku identik dengan kutu buku, dan yang jelas buku identik dengan mahasiswa pelajar serta tenaga pendidik. Namun apakah subyek terakhir ini mereka dekat buku itu sendiri?
Coba kita tengok di internet dan carilah semua artikel yang membahas minat baca masyarakat atau pelajar di Indonesia pasti disuguhi berbagai data angka  baik prosentase atau peringkat prestasi kita dalam hal membaca? Separah itukah? Hingga mengakibatkan banyaknya gerakan dan komunitas yang bermunculan atas keprihatinan dalam hal ini untuk menggalakkan minat baca ini agar bisa menjadi sebuah budaya atau paling tidak sebuah kebiasaan yang menjelma menjadi kebutuhan.
Mari kita lihat hasil selancar di internet mengenai minat baca :
1.      Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara, berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61) (http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia).
  1. Berdasar data Bank Dunia Nomor 16369-IND dan studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achicievement) adalah untuk kawasan Asia Timur, Indonesia memegang posisi terendah dengan skor 51,7, dibawah Filipina dengan skor 52,6. Data lainnya dari UNDP, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen (lihat kompasianan.com, 5/04/13).
3.      Penelitian Human Development Index (HDI) yang dirilis UNDP menyebutkan, melek huruf Indonesia berada di posisi 110 dari 173 negara,Posisi tersebut turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009. Pada tahun 2006 berdasarkan studi lima tahunan bertajuk Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), Indonesia  menempati posisi 36 dari 40 negara (lihat kompasianan.com, 5/04/13).
4.      Menurut catatan BPS tahun 2006, Masyarakat Indonesia adalah Membaca untuk mendapatkan informasi sebanyak 23.5 %, menonton TV sebanyak                                                    85.9 %, dan mendengarkan radio sebanyak 40.3 %.
5.      Menurut Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi Perpustakaan Nasional RI, Titik Kismiati mengungkapkan, minat baca penduduk Indonesia sangat rendah. Merujuk data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik tahun 2012, sebanyak 91,58 persen penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi. Hanya sekitar 17,58 persen saja penduduk yang gemar membaca buku, surat kabar, atau majalah. (http://regional.kompas.com/read/2016/04/28/21020061/Minat.Baca.Rendah.Mayoritas.Warga.Indonesia.Hobi.Nonton.Televisi),
6.      Selain itu, pada tahun 2012 Unesco melansir index tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. (http://www.jpnn.com/read/2016/06/08/430669/Parah!-Minat-Baca-Indonesia-Rendah-Banget).

Beragam upaya sudah dikerahkan untuk memperbaiki kondisi tersebut, baik dari pemerintah atau komunitas independen yang fokus pada salah satu gerakan ini. Hal ini bukan saja soal pemenuhan fasilitas yang mendukung pergerakan literasi ini, kita sudah mengetahui berbagai fasilitas sudah disediakan oleh pihak-pihak yang menaruh perhatian soal membaca antara lain perpustakaan yang merupakan salah satu lembaga yang paling mendukung kegiatan ini. Dari perpustakaan nasional sampai ke tingkat perpustakaan sekolah, taman baca masyarakat,perpustakaan masyarakat, pojok baca yang berada di lokasi umum dan masih banyak lagi fasilitas yang sengaja dibuat untuk mendukung gerakan ini. Menurut Anies Baswedan (pada saat menjabat Menteri Pendidikan) pernah mengatakan di acara final Gramedia Reading Community Competition 2016 di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta bahwa masyarakat Indonesia masih kurang memanfaatkan infrastruktur yang telah disediakan. (http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia).
Kita sudah mengenal beberapa aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Menyimak atau mendengar kita sudah lakukan tiap waktu tak perlu lagi pembiasaan yang membutuhkan bermacam motivasi walaupun sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam keduanya aspek tersebut untuk mempertajam keterampilan menyimak dan mendengar. Bagaimana dengan membaca dan menulis? Keduannya butuh motivasi dan pembiasaan agar menjadi kebiasaan.
Sebenarnya apa sih minat baca itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, atau keinginan. Dan minat baca pengerian bebasnya adalah kencenderungan hati atau keinginan untuk melakukan kegiatan membaca. Bisa dimaknai bahwa keinginan tersebut harus diupayakan untuk dimunculkan agar tumbuh gairah untuk membaca dan nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan bahkan kebutuhan.
Ada beberapa hal yang menghambat minat baca masyarakat Indonesia yaitu sebagai berikut :
1.      Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa/mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas. Untuk hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan sudah mencanangkan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
2.      Banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat  perhatian anak atau orang dewasa untuk menjauhi buku.
3.      Banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket dan lain-lain.
4.      Lekatnya budaya lisan yang diwariskan oleh orang tua kita dulu dengan mendongeng. Bukan berarti mendongeng itu tidak baik namun lebih beik jika mendongeng disertai buku yang mendukung setelah kegiatan verbal tersebut selesai dilaksanakan.
5.      Harga buku dirasakan oleh masyarakat umum masih sangat mahal. Masyarakat kita masih konsentrasi memenuhi nutrisi dari urusan leher ke bawah namun seringkali menunda untuk nutrisi dari leher ke atas.
Untuk menciptakan dan mengembangkan minat baca masyarakat bisa terwujud kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan, Orang tua, pecinta buku maupun elemen masyarakat bekerja sama melengkapi apa yang kurang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui membaca.


  



Kamis, 01 September 2016

Daftar Isi

Planning Project Buku
Dengan Judul "PROMOSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH : MASIHKAH DIPERLUKAN?"


BAB I     Pendahuluan
a.       Pengertian Perpustakaan
b.      Jenis-jenis Perpustakaan
c.       Organisasi Perpustakaan
BAB II    Perpustakaan Sekolah
a.       Unsur-unsur Perpustakaan Sekolah
b.      Fungsi Perpustakaan Sekolah
c.       Layanan Perpustakaan Sekolah
d.      Koleksi Perpustakaan
e.      Kegiatan Perpustakaan Sekolah
BAB III   Promosi
a.       Pengertia
b.      Tujuan dan Manfaat
c.       Sasaran
d.      Produk
e.      Strategi
f.        Kegiatan Promosi

BAB IV  Pengembangan Perpustakaan
a.       Otomasi perpustakaan
b.      Perpustakaan Digital
c.       Pengembangan Minat Baca


Impian saya bisa jadi buku, misalkan best seller itu Rejeki dari Allah kalaupun tidak saya sudah mencoba...... Semangat!!!!

Jumat, 26 Agustus 2016

CURHAT DENGAN MENULIS



Jk Rowling dengan sihir Harry Potter-nya
Twilight serial novel vampir ganteng yang bikin hebohnya  Stephenie Meyer
Semangat sekolah para prajurit Laskar Pelangi yang terhimpit oleh keadaan karya Anrea Hirata
Ahmad Fuadi dengan cerita indahnya tentang pondok pesantren
Karya-karya hebat dari penulis keren ini masuk deretan best seller yang mampu menggetarkan, mencerahkan dan menginsipirasi para penikmat tulisannya.
Saya selalu takjub dengan siapapun yang berhasil menghasilkan sebuah karya yang mempu mempengaruhi orang lain yang membacanya. Tentunya pengaruh positif yang bisa memberi perubahan sekitarnya atau pembacanya. Sepertinya seorang penulis itu penuh dengan ide-ide berkeliaran  yang seolah berebutan untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan yang menarik dan luar biasa. Dan sepertinya mereka tidak perlu nunggu wangsit dulu untuk mendapatkan bermacam ide tulisan, tak perlu memeras otak untuk memunculkan sebuah ide cemerlang, mengalir...mengalir..lancar. Dan sepertinya lagi nih  penulis-penulis keren tersebut jarang mengalami kebuntuan di depan media tulis mereka. Saya ingin bisa nulis seperti mereka.
Pada masa digital seperti sekarang ini, kita bisa mendapatkan berbagai macam ilmu dan informasi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan diri. Misal ingin tahu bagaimana menulis kita tinggal seaching di internet soal tulis menulis. Artikel yang ditulis dari penulis terkenal atau yang belum kita kenal tetap bermanfaat. Di sana terdapat berbagai macam informasi bagaimana cara memunculkan ide, bagaimana membuat paragraf pembuka, bagaimana mengembangkan tulisan dari outline yang sudah dibuat sebelumnya bahkan ada banyak tips bagaimana membuat judul yang asyik atau enak untuk dibaca.
Meskipun di dunia nyata jumlah teman saya terbatas namun kita bisa mencari teman yang banyak di dunia maya, tentunya tidak sekedar meminta pertemanan dengan sembarang klik. Tetapi sekiranya teman yang membawa pengaruh baik untuk diri kita. Nah karena saya ingin bisa menulis saya mencari komunitas orang-orang yang suka menulis setidaknya nanti ada beberapa tulisannya sharing mengenai hal tersebut.
Karena merasa tidak mempunyai bakat menulis dan profesi saya dituntut harus bisa menulis sayapun harus mencari komunitas yang satu frekuensi. Padahal saya diberi tugas oleh atasan untuk mengisi konten website kantor, maka dari itu saya terpacu untuk belajar menulis dari siapapun. Suatu waktu saya jalan-jalan di fesbuk dan menemukan grup yang isinya para perempuan hebat, Ibu-Ibu doyan Nulis dan Ibu-Ibu Doyan Bisnis besutan dari Indscript Center foundernya juga seorang perempuan hebat. Saya pun niatkan untuk mengikuti training yang ada untuk melatih kemampuan menulis saya. Saya bekerja di Kantor Perpustakaan Milik Pemerintahan Kota, saya sangat beruntung sekali karena banyak sumber literatur tersedia sebagai bahan untuk menulis namun sayangnya belum memiliki kemampuan menulis. Karena pengalaman saya hanyalah menulis di buku harian (diary) yang sudah terbiasa saya lakukan sejak usia SD yang berisi kisah-kisah polos tanpa beban khas usia sekolah dasar tak peduli benar tidaknya susunan kalimatnya. Dilanjut pada masa SLTP hingga kuliah masih saja senang curhat di buku harian apalagi di saat-saat sedih menulis lebih bisa lancar dan lebih cepat melahirkan banyak kalimat, hasilnya hati bisa lebih tenang.
Sampai sekarang, sudah menjadi seorang ibu pun buku harian masih ada di tas. Ke mana-mana saya bawa. Saya ingat waktu itu saya sedang mengalami masa-masa sulit di mana saya merasa harus meluapkan segala rasa yang sedang saya alami. Yaitu di mana saat anak sulung saya,Diva, divonis sakit kanker Neuroblastoma dan harus berobat rutin di Rumah Sakit Kariadi Semarang. Praktis saya harus bolak balik Pekalongan-Semarang-Pekalongan di tiap akhir pekan. Saya merasa sendiri. Saya seperti orang linglung. Selama proses pengobatan Diva saya tinggal di Pekalongan sementara suami dan anak-anak tinggal bersama orang tua saya di Semarang, keputusan ini kami ambil agar dekat akses ke rumah sakitnya dari pada harus bolak balik Pekalongan-Semarang. Tiap akhir pekan saya ke Semarang untuk menemani Diva jadwal kemoterapi. Begitu ritme saya hampir 2 tahun wira wiri Pekalongan-Semarang dan kembali bekerja Senin pagi balik lagi ke Pekalongan. Karena pengobatan kanker tidak hanya memakan satu dua hari saja kami memutuskan warung kecil yang dikelola suami saya tutup sementara entah sampai kapan. Buku harian menemaniku di kala di rumah sakit menumpahkan segala resah dan kekhawatian melihat perjuangan Diva melawan sakitnya dan praktis selama pengobatan saya berjauhan dengan keluarga kecilku tercinta, kesepian, kesedihan dan kerinduan selalu melanda di setiap waktu. Buku harianku inilah yang membantuku meringankan sesak di dada.
Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari kegiatan ‘menggerakkan pena’ (sekarang dipermudah menulis via perangkat) antara lain :
  • Menulis sebagi terapi
Saya ingat di bab pendahululuan di bukunya pak Habibie, Habibi dan Ainun, di bab satu diceritakan sepeninggal Ibu Ainun, Pak Habibie merasa sangat terpukul dan didera kesedihan yang tak kinjung hilang. Beliau dinyatakan menderita psikosomatik, beberapa tenaga medis (dari dokter,psikiater sampai psikolog) ikut turun membantu kesembuhannya. Namun tak kunjung ada perubahan yang signifikan akhirnya ada saran bahwa Pak Habibie diminta untuk menulis segala kenangan bersama Ibu Ainun tercinta. Alhasil Pak Habibie jauh lebih baik dan bukunya pun sukses menjadi best seller dan diadaptasi ke layar lebar juga menjadi box office.
Begitu juga saya, seperti saya ceritakan sekilas di atas soal kesedihan tentang pertama kali Diva terkena Neuroblastoma hingga meninggal membuat kesedihan dan kepiluan yang berkepanjangan. Saya tuliskan semua rasa ke buku harian sehingga berhasil membantu melegakan apa yang menjadi sesak di dada.
  • Menambah wawasan
Pada saat harus menulis artikel atau karya ilmiah sebagai tugas kantor saya mewajibkan diri saya membaca beberapa judul buku sebagai bahan referensi. Bonusnya adalah kita jadi lebih banyak mendapat pengetahuan yang lebih banyak.
  • Melatih imajinasi
Saya juga suka nulis puisi, pilihan diksi akan membantu saya lebih bisa berimajinasi. Hai ini bisa mempertajam fungsi otak kanan.
Karena beberapa hal tersebut di atas saya mencari komunitas menulis lagi, bertemulah saya dengan Teh Rina Maruti, Mba Asih Sunarsih (salah satu member KMO sebelumnya)  di dunia maya dan akhirnya saya  tahu KMO dan ingin sekali belajar menulis. Di saat saya merasa tidak punya bakat menulis, saya bertanya kepada Mas Tendi Murti (Founder KMO) apakah menulis itu bakat atau ketrampilan. Beliau menjawab, ”menulis itu ketrampilan ..siapa saja bisa..berapa lama supaya mahir? Yang jelas semakin seering menulis..menulis semakin cepat untuk masuk ke tahap akhir.”
Dengan jawaban tersebut saya semakin membulatkan tekad untuk terus menulis walaupun tidak mempunyai bakat menulis. yang penting tinggal meluruskan niat dan bertindak untuk segera selalu menggerakkan pena untuk membuat tulisan.
#KMOClub07

Selasa, 11 Agustus 2015

SENDIRI

Bukan sepi bahkan menyepi apalagi kesepian
Bukan sunyi bahkan kesunyian akut
Gamang oleh hiruk pikuk bukan berarti apatis
Cuek oleh nyanyian tak penting bukan berarti dingin
Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri
Dengan begitu dia merasa tegar dan kuat dengan kesendiriannya

#demimelihatdiahidupsendiri
Pekalongan, 12 Agustus 2015

Masa

Jika memang kakiku bertahan sampai detik ini
Mengapa aku harus terlempar persis 2 tahun yang lalu?
Jika pandanganku memang pada masa kini
Mengapa aku melihatnya masa lalu yang penuh 'penyesalan'
Jika memang aku mengaku 'lupa'
Mengapa aku masih saja mengingatmu disadarku?
Jika memang...
Mengapa aku masih saja merasa kurang sempurna saat menimangmu,menciummu, memelukmu??
Jika memang.....
Aahhhh waktu memang cepat menggilas
Namun tak mampu memangkas kenangan drama nyata kehidupan

Pekalongan, 9 Agustus 2015
Di ujung rinduku

Sabtu, 23 Mei 2015

Ibu.....

Tiba-tiba ingat ibuku yang ada di rumah, Kota Semarang berjuta kenangan, ketika aku melihat Nia,anakku, melihat video dari hapeku.
Video yang berisi rekaman Diva dan Nia sewaktu berusia batita. Kusimak komen-komen lucunya saat melihat memori tersebut.
Setelah melihat-lihat video tersebut, tangan kecilnya lincah mencari file-fila lainnya. Dan ternyata jatuh pada file unduhan lagu-lagu Sherina masa kecil.
Sekita teringat kapan aku mengunduhnya, ya tahun 2012. Di mana "peranku" saat itu mengharuskanku prihatin dan tegar, kuat melewati sebuah "masa".
Aku ingat, di tahun itu aku merepotkan ibuku lagi dengan menitipkan Nia ke ibuku. Pada saat itu Nia berusia 2 tahun. Masa-masa dengan usia yang masih sangat aktif, keinginantahuan yang besar, keakuan yang masih besar. Mungkin sedikit banyak membuat kewalahan ibuku. Tapi ibuku tidak pernah mengeluh. Lagi-lagi seumur hidupku memang anak gak bisa lepas dari ibu ya. Seperti aku yang selalu butuh ibu. Ibuku sebagai wanita bekerja harus kubebani dengan keberadaan Nia, aku tahu kerepotan pagi hari yang harus dilewati ibuku. Rutinitas pagi dari menyiapkan sarapan, baju bapak untuk ke kantor, persiapan beliau sendiri untuk ngantor, sejak itu pula ketambahan hadirnya Nia. Luar biasa repotnya.
Keadaan ini memang harus dilalui karena sebuah "ketentuan Ilahi".
Terimakasih ibu...
Dengan taruhan nyawa Engkau melahirkanku
Dengan peluh engkau merawat dan membesarkanku
tanpa keluh kesah
Dengan sengaja melukis bahagia di hidupku
Sampai saatnya hatiku tertambat pada sebuah takdir jodoh
Berharap tamat untuk menyusahkan ibu
Ternyata niat mulia itu mustahil bagi seorang anak sepertiku
Berharap hanya memberi kabar gembira saja kepada beliau, itupun meleset
hingga akhirnya sebuah perjalanan membuatku harus melewati cerita wajib dari ALLAH kalau aku sangat membutuhkan ibu
dengan tulisan ini sebagai doaku, semoga ibu selalu sehat, mendapat usia yang berkah
Ya Rabb bahagiakan ibuku
Lindungi di manapun beliau berada
Aku kangen ibu.......

Senin, 11 Mei 2015

Nyanyian Surga

Seperti membisik lembut
Menghipnotisku ke ruang lain
Membelai jiwa
Mendesirkan darah
Menggetarkan ruh
Memejamkan mata
Menikmati alunan ayatNYA
Di panggung nirwana